Mari Kita tingkatkan kebersamaan dalam membangun, dengan tidak mengesampingkan adat-budaya kita !!

Jumat, 02 Juni 2017

Saya Indonesia, Saya PANCASILA...!!!

 
Saya Indonesia, Saya Pancasila.... Jayalah Pancasila...

Dengan memeperingati momen Hari Lahirnya Pancasila, saya merasa bangga tahun ini merupakan sinyal awal bangkitnya semangat dan pengamalan Pancasila yang hampir punah di Indonesia. bagaimana tidak, Sejak Tahun 1994-an pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) serta GBHN sudah mulai luntur, dan sejak itu pula nilai-nilai ideologi Pancasila di sejak dini sudah mulai bergeser atau (sengaja) digeser. Tak ayal, para pemuda pemudi pada masa kekinian sudah semakin tak bermoral.
melalui kesempatan ini, saya kembali rindu dengan Pengamalan dan Penghayatan Pancasila, atau dulu dikenal setiap awal masuk Pendidikan selalu diberikan Penataran P4 untuk membina nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bertanah air.
Berikut butir-butir Pancasila sebagaimana Ketetapan MPR no. II/MPR/1978 tentang Ekaprasetia Pancakarsa menjabarkan kelima asas dalam Pancasila menjadi 36 butir pengamalan sebagai pedoman praktis bagi pelaksanaan Pancasila bagi warga negaranya, yang kemudian
ketetapan ini dicabut dengan Tap MPR no. I/MPR/2003 dengan 45 butir Pancasila, sebagai berikut :


I. SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA
  1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Manusia Indonesia percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sesuai agama dan kepercayaan masing-masing atas dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Mengembangkan sikap saling hormat-menghormati dan bekerja sama antara pemeluk agama dan kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  4. Membina kerukunan hidup antar sesama umat agama dan berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  5. Agama dan kepercayaan adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi dengan Tuhan Yang Maha Esa
  6. Mengembangkan sikap saling menghormati menjalankan kebebasan beribadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.
  7. Tidak memaksakan suatu agama atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.
II. SILA KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB
  1. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Mengakui persamaan derajat,  hak dan kewajiban asasi setiap manusia tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama,  jenis kelamin, warna kulit, dan sebagainya.
  3. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
  4. Mengembangkan sikap tenggang rasa dan tepa selira.
  5. Mengembangkan sikap tidak semena-mena kepada orang lain.
  6. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
  7. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  8. Berani membela kebenaran dan keadilan.
  9. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
  10. Mengembangkan sikap saling hormat-menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain.
III. SILA PERSATUAN INDONESIA
  1. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan serta kepentingan bangsa dan Negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan .
  2. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara
  3. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
  4. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
  5. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial.
  6. Mengembangkan persatuan  Indonesia atas dasar Bhineka Tunggal Ika.
  7. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
IV. SILA KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN PERWAKILAN
  1. Sebagai warga Negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
  2. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
  3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
  5. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
  6. Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
  7. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi atau golongan.
  8. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat sesuai dengan hati nurani yang jujur.
  9. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan matabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan, mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
  10. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan permusyawaratan.
V. SILA KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA
  1. Mengembangkan perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan susasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
  2. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
  3. Menjaga keseimbangan atara hak dan kewajiban.
  4. Menghormati hak orang lain.
  5. Suka memberikan pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
  6. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.
  7. Tidak menggunakan hak milik untuk untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
  8. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bertentangan dengan atau  kepentingan umum.
  9. Suka bekerja keras.
  10. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
  11. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang  merata dan keadilan sosial.
 

Selasa, 26 Agustus 2014

BAHASA MAANYAN

 "UMUR" bukan "UMBUR"



Kali ini membahas mengenai bunyi bahasa (fonem) dalam bahasa Dayak Maanyan, khususnya yang berhubungan dan atau mengandung huruf "M" dan "N".
Seringkali kita mendengar perkataan / logat bahasa (fonem) orang-orang yang bukan asli Maanyan sangat berbeda dengan logat / pengucapan orang yang memang asli sejak lahir berbahasa Maanyan.
Bahkan ironisnya; dalam penulisan bahasa Maanyan pun tidak jarang kita menjumpai beberapa kata dalam bahasa Maanyan yang disesuaikan dengan fonem yang salah tersebut, contohnya:
  • AMAH; (seharusnya bukan) ditulis  AMBAH, artinya = Ayah, bapak.
  • AMAI; (seharusnya bukan) ditulis AMBAI, artinya = Naik, masuk ke dalam rumah.
  • UMA,; (seharusnya bukan) ditulis UMBA, artinya = Ikut
  • ENEI; (seharusnya bukan) ditulis ENDEI, artinya = Bawa bersama.
  • UNUR; (seharusnya bukan) ditulis UNDUR, artinya = Usir (secara kasar).
  • ANAI; (seharusnya bukan) ditulis ANDAI, artinya = Sangrai, sangan (setengah kering untuk memisahkan minyak dari daging)
  • AMUNG; (seharusnya bukan) ditulis AMBUNG, artinya = Lambung, melempar keatas.

Setelah kita menyimak beberapa kata diatas, berarti seharusnya setiap kata bahasa dalam bahasa Maanyan yang demikian baik dalam pengucapannya maupun dalam penulisannya (yang mengandung huruf "M" dan "N" ditengah kata) janganlah ditambah menjadi ( "...MB.." atau "..ND.."), karena jika demikian (ditambah), maka beberapa kata dalam bahasa Indonesia juga harus ditambah; seperti:
  • SUMUR = SUMBUR;
  • KAMAR = KAMBAR;
  • UMUR = UMBUR;
  • KAMERA = KAMBERA

Jadi, jelas bukan..??
Bahasa Maanyan itu bukanlah sulit, jika kita memahaminya (bukan menghafal)...

Selain beberapa kata diatas, ada juga fonem yang lain yang cara pengucapannya sama seperti "..M.." dan "..N.." yaitu "..NG.." dan "..NY.."
Dalam bahasa Dayak Maanyan tiga hal tersebut yang mendasar diperhatikan dalam pengucapannya. Semua fonem itu biasanya terletak ditengah kata, contoh kata yang menggunakan fonem tersebut :
  • PANGANG, artinya PANGGANG
  • PANYANG, artinya PANJANG
  • PUNGUNG, artinya PUNGGUNG
  • SANGA, artinya SANGGA
Jadi demikianlah sementara yang dapat saya bagi (share) untuk saudara, semoga tulisan ini bermanfaat sedikitnya bagi anda yang ingin memahami bahasa Maanyan lebih jelas serta menambah wawasan kita semua... demikian jika ada kekurangan ataupun kesalahan dalam tulisan ini, mohon agar dilengkapi dan dikritik... terima kasih..





Senin, 25 Juni 2012

TRADISI WARGA DAYAK MA'ANYAN

-->
Tradisi Orang Dayak Ma’anyan
Berikut tradisi turun-temurun orang Ma’anyan yang seharusnya tetap dilestarikan dan yang hampir terlupakan, tradisi yang berkaitan dengan usaha/kegiatan kebutuhan hidup masyarakat ;
1)      NGANYUH MU’AU / IPANGANDRAU
Untuk memenuhi kebutuhan hidup,  orang Dayak Ma’anyan bercocok-tanam dengan berladang dan mayoritas daerah perbukitan dengan ketinggian sedang dan berpindah-pindah setelah lahan sudah tidak menghasilkan. Lalu diganti dengan perkebunan, yaitu KARET.
Dalam tradisi berladang orang Dayak Ma’anyan, ada yang hampir terlupakan dan bahkan saat ini sudah ada yang tidak melaksanakan tradisi tersebut; yakni NGANYUH MU’AU / PANGANDRAU.
Nganyuh Mu’au atau Ipangandrau dilaksanakan orang Ma’anyan ketika mereka memulai menabur bibit padi. Disini terlihat kebersamaan suku Dayak Ma’anyan khususnya, dimana masyarakat secara bersama-sama turut dalam menabur benih salah satu keluarga atau tetangga bahkan dari desa berbeda yang biasanya selesai pada hari itu juga oleh orang yang jumlahnya banyak tersebut.
Adapun kebiasaan yang dilakukan, yaitu beberapa orang laki-laki membawa EHEK (alat dari kayu untuk melobangi tanah yang kemudian di tabur benih) berjalan didepan yang di komando/dipimpin  oleh seorang PANGAYAK, yaitu orang yang memimpin gerakan menanam benih ini agar tertib dengan kaidah-kaidah menurut adat yang biasanya dari keluarga yang melaksanakan kegiatan NGANYUH ini. Sedangkan para perempuannya berjalan dibelakang dengan membawa BAJUT (sebuah wadah dari anyaman digunakan sebagai tempat WINI / benih) dan dengan tertib menabur benih tadi kedalam lobang EHEK yang dibuat oleh para pria tadi.
Setelah sampai waktunya untuk beristirahat, maka warga yang membantu dalam kegiatan tersebutpun disuguhi dengan berbagai penganan khas suku Ma’anyan; seperti BUBUR WADAI, KALUWIT, dan banyak lagi hingga makan siang.
Ada suatu tempat tepat ditengah-tengah ladang/ UME yang tidak boleh ditanami dengan benih, yang disebut; “PANGKAT PALANUNGKAI”, luasnya sekitar 4 meter persegi. Tempat ini diyakini secara turun-temurun adalah tempat para dewi padi untuk menjaga ladang tersebut dari gangguan binatang/hama yang dapat merusak padi setelah tumbuhnya, sehingga hasil tanam lebih baik dan maksimal.
Setelah satu hari penuh telah dilaksanakan gotong-royong pada UME salah satu warga, maka hari berikutnya setelah ditentukan sebelumnya dilanjutkan ke UME warga yang lainnya, demikian seterusnya secara bergantian sampai masa tanam selesai.
Itulah tradisi Suku Dayak Ma’anyan yang disebut “NGANYUH MU’AU” atau juga sering disebut “IPANGANDRAU”
-->Untuk melihat tradisi ini, anda bisa mengunjungi desa-desa di pedalaman Barito Timur sekarang, secara contoh; anda bisa menjumpai tradisi tersebut di Kecamatan Paju Epat, seperti di Desa Murutuwu, Telangsiong, Balawa dan sekitarnya.

2)      NIKEP-NUHAK-NARIUK
      Tradisi ini biasa ramai-ramai dilakukan masyarakat suku Dayak Maanyan ketika musim kemarau tiba.

Selasa, 31 Januari 2012

BAHASA PANGUNRAUN

Bahasa Pangunraun merupakan bahasa Ma'anyan kuno yang dipergunakan pada waktu adanya persaudaraan suku Ma'anyan pertama yang disebut dengan NANSARUNAI gunung rumung - ipah bawai..
Sedangkan asal-usul manusia Ma'anyan pertama dari Gumi Laliku Ma'eh (atau yang kita kenal dengan Taman Eden), itu menurut beberapa sumber literatur yang saya baca..
Bahasa Ma'anyan saat ini adalah bahasa yang sudah termodifikasi sesuai dengan kondisi masing-masing pembawa bahasa itu sendiri yang terbagi menjadi 3 (tiga) pokok Leut atau lagam bahasa yang umum digunakan sampai dengan sekarang, yakni;
- bahasa Ma'anyan Paju Epat,
- bahasa Ma'anyan Paju Sapuluh, dan
- bahasa Ma'anyan Paju Dime (banua lima)
disamping itu yang merupakan bahasa Ma'anyan turunan ada juga bahasa Dusun Ma'anyan yang mendominasi daerah aliran sungan Barito yang tersebar di Kecamatan Dusun Selatan Barito Selatan seperti Desa Kalahien, Pararapak, Tanjung Jawa, Mabuan, Ripung, dan sekitarnya.
Bahasa Ma'anyan Pangunraun sering kita dengar sangat unik dibawakan oleh Mantir-mantir Adat Ma'anyan pada saat Perkawinan Adat Ma'anyan seperti pada saat Natas Banjang dan Turus Tajak..
Harapan saya kedepan, agar bahasa yang digunakan tersebut dapat dibukukan karena generasi sekarang tidak ada yang menguasai bahasa Pangunraun tersebut..



Rabu, 25 Mei 2011

LESTARIKAN BUDAYA TRADISIONAL

TARI GIRING-GIRING..

Apakah anda sadar, gambar tarian dayak yang ada pada uang pecahan Rp. 2.000,- itu adalah tarian adat Ma'anyan yang disebut tari Giring-giring / tari gangereng. Tarian giring-giring pada kalangan suku dayak Ma'anyan, merupakan tarian khas untuk acara dalam penyambutan tamu terhormat (bagi yang siapapun yang pertamakali datang ke wilayahnya, suku Maanyan menganggap suatu kehormatan).
Akan tetapi saat ini, saya sangat jarang sekali menyaksikan tarian giring-giring baik dalam penyambutan tamu resmi maupun dalam acara adat perkawinan Dayak Maanyan. Hal tersebut membuat saya prihatin bahwa suatu saat tarian tradisional ini akan lenyap, bahkan paten-nya diambil dari daerah lain. Perlu diketahui, bahwa tari giring-giring sejatinya berasal dan dilestarikan diwilayah Kabupaten Barito Selatan dan Barito Timur yang notabene dihuni sebagian besar suku Ma'anyan..
Beberapa kali saya sarankan kepada para penggiat sanggar tari, agar mereka menampilkan tarian giring-giring pada acara perkawinan adat suku Dayak Ma'anyan agar khasanah budaya kita jangan sampai rapuh dan lenyap. Sebab usul saya tersebut dirasa sangat beralasan karena dalam acara perkawinan adat Ma'anyan ada salah satu sesi yang berhadap-hadapan dengan tamu baru, dimana calon mempelai pria berada pada luar pagar (banjang). Nah, pada acara adat Natas Banjang inilah yang saya maksudkan untuk ditampilkan tarian giring-giring, baru setelah Iwurung Juwe ditampilkan tarian gelang  (Dadas dan Bawo).
Hal tersebut semua saya maksudkan semata hanyalah untuk menjaga kelestarian khasanah budaya kita, karena bukan mustahil jika suatu saat tari giring-giring ini yang (menurut saya) nilai plus budaya kita nantinya akan terkenal di Kalimantan Selatan, padahal asal-muasalnya dari wilayah Barito Selatan dan Timur. itu terjadi jika kita tidak menjaga, melestarikan, serta mempromosikan berbagai budaya adat kita orang penduduk asli tanah Barito yaitu DUSMALA.
Sebagai bahan renungan dan contoh kecil ;
Mandai, makanan dari kulit cempedak yang digoreng; tahukah anda?? bahwa asal-muasal orang memakan dan menjadikan mandai sebagai lauk adalah dari Barito (Utara-Selatan-Timur). Sekarang mandai terkenal dikalangan orang Banjar.

Jadi, tugas kita sebagai generasi muda Ma'anyan, harus berperan aktif untuk menjaga, melestarikan serta mempromosikan budaya dan kuliner asli Dayak Maanyan..
disini ada beberapa kuliner asli Ma'anyan / DUSMALA:
Karu'ang, Kaluwit, Wadai Diki Manau / Kakiak Duyu, Bubur Wadai, Wadi Wawui, Tampuyak, dll...

Rabu, 01 Desember 2010

KAMUS BAHASA MAANYAN

Bahasa Maanyan sebenarnya tidaklah sulit, hanya perlu memahami perkataan dimaksud secara seksama, berikut ini adalah beberapa kata-kata sulit basa Maanyan yang mungkin sering dijumpai dan jarang terdengar dalam basa Maanyan kini;
Berbagai imbuhan basa Maanyan yang sangat banyak dari imbuhan bahasa Indonesia; contoh:
me-(sedang me-) = i- ; na- ;   mempunyai sifat = ma- ; di-(menyuruh sesuatu) = na-

disusun dalam kata Maanyan sulit-maanyan gaul-Indonesia 

  1. Magun : Masih = Masih, sedang berlangsung;
  2. Napea             = Mengasuh [anak], biasanya dengan kedua tangan dibawah benda atau anak yg diangkat;
  3. Napea/Nuntuwiney = Mengasuh anak dgn meletakkannya (biasanya) diatas paha/kaki;
  4. Nunturungan    = Sesuai dengan, sejalan, seturut dengan;
  5. Iturukayu : manyayur = Sedang meracik sayuran untuk teman lauk;
  6. Ipuru                     = Sedang mengerjakan sesuatu dgn cermat dan sangat serius;

Senin, 29 November 2010

Belajar jadi Pegawai

Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI), pemersatu Pegawai Negeri Sipil seluruh Indonesia.
Saat ini, beribu-ribu bahkan berjuta masyarakat ingin masuk kedalam wadah Korps ini. Tebukti kemarin, secara serentak pelamar CPNS berkompetensi untuk mengambil peluang memperoleh predikat sebagai CPNS yang diidam-idamkan. Mengapa?? Padahal dari segi penghasilan, PNS dinilai belum memuaskan, akan tetapi sepertinya Korps ini sangat menjanjikan untuk masa depan mereka.
Itu karena untuk menjadi seorang PNS, tidak membutuhkan pengalaman kerja yang cukup lama, sedangkan jika mereka melamar pada dunia usaha lainnya sangat diutamakan pengalaman kerja paling tidak 3 (tiga) tahun pada bidang yang tertentu. Disamping itu untuk menjadi seorang PNS, tidak menuntut kinerja yang sangat tinggi.
Jika demikian, apa yang sebenarnya kewajiban untuk menjadi seorang PNS??
PNS juga di tuntut sebagai ABDI Negara, maka tidaklah salah apabila PNS tetaplah bekerja sebagaimana yang diwajibkan tanpa mengharap hasil yang besar. Akan tetapi pada prakteknya PNS juga dituntut menjadi abdi pemerintah yang dalam hal ini adalah atasannya. Maka kebanyakan PNS tunduk kepada atasan tetapi atasan tidak memperhatikan hak-hak mereka, padahal saat ini, lebih banyak PNS junior yang memiliki keahlian tertentu. 
Sudah saatnya kita mempergunakan keahlian-keahlian kita sebagai PNS sesuai dengan bidang masing-masing sehingga pada saatnya nanti merupakan nilai tambah bagi Korps itu sendiri.

Mari....!!, kita tingkatkan KINERJA kita sebagai Pegawai Negeri Sipil dan tingkatkan pula penghasilannya....., (amin)......

Kamis, 25 November 2010

Peresmian Jembatan Kalahien

Hari ini, tanggal 25 Nopember 2010 adalah bakal jadi hari yang bersejarah di kawasan desa Kalahien.
Karena pukul 10.00 WIB, secara resmi dibuka untuk umum melaluinya. Jembatan yang menghubungkan beberapa kabupaten dengan ibukota Propinsi Kalimantan Tengah ini diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang dan dihadiri oleh Bupati dan unsur muspida serta masyarakat Kabupaten Barito Selatan.
Dengan adanya peresmian jembatan Kalahien ini, diharapkan nantinya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Barito Selatan umumnya.

Selasa, 23 November 2010

Tanuhuy "Mantulegang Pana'ani"

Ka'ayat damihari lagi ma'ieng hi Mantulegang batatap lepuh tulak ne'en. Kude ani ni balalu hamen ka'umma hanye daya puang he'ey ra'erai muneng hang lewu, sadang ineh-ammah here rueh amalem hang pangumean, ekat here rueh sa muneng hang lewu tumpungan yeru.
Anga'an kahaba akal, anni Mantulegang balalu 'angiyuh'ang na eney pada lepuh ne'en kude andri erang kawusi paner pesen Mantulegang; "ari, lah...!! amun haut hampe putut jarau ru die, hanyu muku hang imme. Ada mayaru-mayanai, ada kajut hene kawauhen, aku mamai lepuh ngene pulut"..
Hampe putut jarau, andrau magun ma'ieng sasiruh, bulu hi Mantulegang tulak mamai kakau jarau hampe lawi ni. isa, rueh, hampe saparo didi pulut haut na ene daya Mantulegang, salenga anni ni bulu maharek; "Inun 'sa iwulu-wulu?" eau anni ni. Daya pahakun takut malangar pesen yeru huni bulu sangai Mantulegang; "Wuulu uwi". Balalu anni ni yeru sa tunti-tunti kamulek, wangun ni naan kawauhen anni Mantulegang ru nelang andrau magun sasiruh bulu puang lentah paninungan ni. Hingka iwulu-wulu, isilu-silu, i'ulu-ulu, hampe ipe'e-pe'e...
Hampe akhir ni, kaluar erang ka'ukuy JIN palus nyamm'a anni Mantulegang ru.......
Hi Mantulegang puang min'a, amun anni ni haut wuah culik daya jin Malaberem, hampe luput ene ni didi pulut bulu hanye minau andrau magun ma'ieng.. Wa'u hanye sadar, anni ni haut kungkung jin Malaberem tulak lawit.
Hi Mantulegang nyumput hanruhut wua Muntei (sebangsa limau jumpun) hampe namput karawen-rawen ni bulu nuwe hg wuang umean, ne'u pakai tatulak panan jin alah jumpun.
Lunyak-lunyak hi Mantulegang takia hampe akhir ni lewu ulu panga hujung tumpuk lewu ulun. "Tar..., pungkalung Mantulegang wua Muntei hampi wa'anawang lewu ulun yeru...; "Hiye iru??" eau tunti ulun hingka wuang lewu. "Akuu..., hi Mantulegang, aku ngantara ann'i ku." eau Mantulegang.
Isa, rueh, telu pungkalung Mantulegang wa'anawang lewu ulun hampe naan sa maharek nyang'ai; "Antara nu hampi panga hujung tumpuk naan lewu panga wala hang hujung yaru."
Hi Mantulegang kia eleh hampe hujung tumpuk, hampe lewu sa panga hujung sa eau ulun ru huni. Hi Mantulegang ngaliling lewu yeru nelang tu'u ligar hampe hantelu.
Panampuk ni hi Mantulegang bulu kahaba erang ka'ulun iya sa rahat na kurung hang wuang kann'ang kawat. Hi Mantulegang ngulah pikir akal nampan nyanepah ann'i ni hingka wuang kurungan jin Malaberem, sadang jin Malaberem andri darangan ni Itaqrokoq ganyah mandre. Hi Mantulegang panalu erang ka'ukuy alingeket, bulu laku karawah andri alingeket himpan pakai nyamitus kawat kurungan Malaberem.
Eau Mantulegang hingkan alingeket; "hanyu ada mehet nyamitus kawat yiri die, takut rengei Malaberem pana darangan. Aku ngupa hanyu erang supak widit pakai nu".
"Hayu, kude hanyu pada ngantara akal himpan hi Malaberem ada ngawauh lengan witusan kawat yiti die lah..." sann'gai alingeket..
Hi Mantulegang mi'uk wua Muntei bahimat himpan jin Malaberem puang ka'ule ikirat daya enguh wua Muntei yiru, padingian alingeket ngikit kawat kurungan ann'i ni.
"gerettt, gerett...., tinggg.......," lengan kawat witus wuah kikit alingeket. "Husss, alingeket", ekat eau Malaberem hingka wuang lewu. Dami malengan 'tinggg', palus samm'ung Mantulegang marebe hi Malaberem; "tingggg...., kasuit, gareuk mate Malaberem..... tinggg, kasuit, gareuk mateee itaqrokoq...!!!"
hindra, hanrueh, hantelu, hampe hante luwang kann'ang kawat pa'irah sikak iyuh kaluar anni Mantulegang.
Singkat eau mandru kesah, balalu hi Mantulegang mudi ngenn'ey ann'i ni ma lewu. Sadang pulut hang lawi jarau bulu puang na awang.
Here rueh mudi hampe lewu haut kariwe andrau, ineh andri amm'ah Mantulegang pada mudi ikumpul katuluh.


Jari tanuhuy yeru bariran ma takam, kawan iya bujang. Ada na kampahe amun naan papaneran ulun kawan iya rumis. Daya Allatalla ka'eau : "Hiye isa manurut naun rumis, hanye yeru 'sa kapinu'u ni isa pangahante ni"

----- Tarime kasis ------


aku laku karawah, amun naan haba naun kawan tangke, tanuhuy-tanuhuy sa lain lagi........

Jumat, 19 November 2010

Lestarikan Adat

Mitah fasilitas yena aku ngampi'itung hampi kawan tangke, ware takam malestari adat budaya takam ma'anyan.
Ada hampe adat budaya takam sa pangahinti ni hanye ru basa takam basa Ma'anyan. hayu, takam ngapanyari basa Maanyan sebagai bahasa pemersatu, khususni wilayah Barito Timur nelang pada Barito Selatan.

Aku pada kasungu tanuhuy ineh-ammah sadi hanye iru; yalah : Gayuhan, Mantulegang pana'ani, Ave andri Silu, Hi Nilur, dll.....
tanuhuy yeru ta'u nganyu pangajaran ma kawan iya ne'u nutui ala pamelum here sagar ni die..
Hang ina die aku mansuba nulis kamulek tanuhuy-tanuhuy ulun sadi sa suah na sarita daya ineh-ammah, nini-kakah ku sadi....    

Ragam Perkawinan Adat Maanyan

Adat Perkawinan Orang Maanyan

Menurut kepercayaan orang Maanyan merupakan suatu keharusan apabila usianya sudah memenuhi persyaratan untuk membina sebuah rumah tangga. Dan jenis perkawinan yang ada adalah sebagai berikut :
  1. Adu Pamupuh, perkawinan yang dilakukan oleh orang tua dari kedua belah pihak yang merestui hubungan pasangan tersebut yang disaksikan oleh Mantir serta Pangulu, akan tetapi tidak diperbolehkan kumpul sebagai suami istri. Hal ini tidak lain dari pada pertunangan, sedangkan upacara perkawinan yang sebenarnya masih mempunyai tenggang waktu yang telah disepakati bersama-sama dari kedua belah pihak.
  2. Adu Ijari, perkawinan yang dilakukan oleh dua sejoli, yang melarikan diri serta minta dikawinkan kepada wali dari salah satu pihak dari calon mempelai, serta tidak kepada orang tua sendiri. Biasanya pasangan yang Ijari itu menyerahkan bukti berupa cincin, kalung dan sebagainya bahwa mereka ingin dikawinkan. Perkawinan Ijari berasal dari kata jadi atau lari. Dalam perkawinan ini terjadi ketidakcocokan diantara orang tua tapi kedua sejoli tersebut harus dikawinkan.
  3. Adu Pangu'l, Perkawinan yang direstui oleh kedua belah pihak dari pasangan kedua mempelai. Perkawinan ini dilakukan pada malam hari dengan disaksikan oleh Mantir Epat dan Pangulu Isa beserta dengan wali dari kedua belah pihak.
  4. Adu Gapit Matei Mano, Ayam yang dipotong ialah dari jenis jantan sebanyak dua ekor. Kedua mempelai duduk diatas 9 buah gong diapit oleh 4 wanita dan 3 pria. Biasanya mereka yang mengapit itu adalah saudara dekat dari kedua mempelai yaitu sepupu sekali. Perkawinan itu disyahkan dengan memercikkan darah ayam dengan daun bayam istambul dan daun kammat, kepada pakaian kedua mempelai. Turus Tajak, atau sumbangan dari para hadirin diberikan pada waktu itu kepada kedua mempelai. Disamping Turus Tajak ada jugahadirin yang memberikan sumbangan berikut melalui petuah akan kegunaan sumbangan tadi kepada kedua mempelai. Petuah yang diberikan itu maksudnya membina rumah tangga yang baik disebut Wawaling. Pada acara perkawinan ini tanpa diakan wadian.
  5. Adu Gapit Matei Iwek, Pada acara perkawinan ini sama dengan "Adu Gapit Matei Mano", tetapi binatang korban bukan lagi ayam jantan, melainkan diganti dengan babi atau iwek.
  6. Adu Gapit Manru Matei Iwek, pada acara perkawinan ini, kedua mempelai sama duduk diatas 9 buah gong, diapit oleh 4 wanita dan 3 pria, ditambah dengan Wadian Bawo. Perkawinan ini adalah sebuah perkawinan yang tinggi nilainya, dalam susunan perkawinan di daerah Kerajaan Nansarunai. Perkawinan ini disertai oleh hukum adat yang harus dituruti oleh kedua mempelai.
Ketentuan hukum adat itu adalah :
  1. Hukum Kabanaran 12 rial
  2. Hukum Pinangkahan, artinya ialah kedua mempelai harus membayar denda perkawinan bilamana wanita menikah lebih dahulu dari kakaknya.
  3. Hukum adat, harus memberikan hadiah kepada pihak kakak atau nenek mempelai wanita, bilamana yang bersangkutan masih mempunyai kakek atau nenek yang masih hidup.
  4. Pihak mempelai pria harus mengeluarkan pakaian lengkap kepada mempelai wanita.
Acara perkawinan ini dilengkapi dengan namuan gunung perak, yaitu sebagai pelengkap wadian bawo. Lama perkawinan ini adalah 2 hari, 2 malam.
Pada acara perkawinan ini ada upacara yang dinamakan Nyamm'a Wurung Ju'e. Hal ini sebenarnya mencari kedua mempelai dari antara para hadirin untuk dipersandingkan diatas gong yang telah disediakan.
Acara Nyamm'a Wurung Ju'e bila yang dicari mempelai wanita maka disebut "Mintan Wurung Ju'e", sedangkan untuk mencari mempelai pria disebut "Mulut Wurung Ju'e". Acara mencari kedua mempelai ini disaksikan oleh Mantir dan Pangulu, setelah kedua mempelai yang sebenarnya ditemukan oleh wadian mereka lalu disuruh duduk diatas gong yang diapit oleh 4 wanita dan 3 pria. Peristiwa itu disaksikan mantir dan pangulu serta para kaum kerabat dan hadirin yang hadir.
catatan :
Real adalah mata uang bangsa Arab, yang dipakai sebagai alat jual beli ketika orang Maanyan berdagang dari Kalimantan Selatan hingga ke Madagaskar dari abad ke-10 sampai abad ke-14.
Mantir dan Pangulu memercikkan atau mamalas darah babi kepada kedua mempelai, beserta memberi wawaling dan hadirin memberi Turus Tajak.
Wawaling dan Turus Tajak diberikan sebagai langkah awal kedua mempelai membina rumah tangga yang baik dan sempurna untuk kemudian hari.
Dalam perkawainan Adut Gapit Manru Matei Iwek ini ada acara yang dinamakan "Pagar Tonnyo'ng" yaitu didepan pintu pagar rumah calon mempelai wanita, keluarga dari calon mempelai pria mengucapkan syair-syair semcam puji-pujian yang disambut oleh pihak keluarga calon mempelai wanita dengan penuh penghargaan yang tulus atas kedatangan keluarga calon mempelai pria. Keluarga calon mempelai pria membawa hantaran berupa, lemang yang dibawa oleh orang membawa tombak. Batang-batang lemang ditaruh didalam kantongan dibelakang pemegang tombak.

sumber : http://bahasamaanyan.blogspot.com/     oleh: Sutopo Ukip

Kamis, 18 November 2010

Siapakah Kandidat Pemimpin Barito Selatan 2011 - 2016?

Tidak lama lagi seluruh masyarakat Barsel akan menggunakan hak pilihnya dalam PEMULIKADA Kabupaten Barito Selatan.
Akankah  pemimpin yang berikutnya adalah pilihan anda?...
Mari kita gunakan hak pilih secara arif dan bijaksana, dengan hati-hati dan benar-benar pilihan hati nurani kita semua...
Pada saatnya nanti, marilah kita dukung Pemerintahan terpilih kelak dengan berperan aktif dalam membangun Barsel yang kita cintai ini demi kesejahteraan masyarakat kita..



http://www.baritoselatankab.go.id/