Mari Kita tingkatkan kebersamaan dalam membangun, dengan tidak mengesampingkan adat-budaya kita !!

Senin, 25 Juni 2012

TRADISI WARGA DAYAK MA'ANYAN

-->
Tradisi Orang Dayak Ma’anyan
Berikut tradisi turun-temurun orang Ma’anyan yang seharusnya tetap dilestarikan dan yang hampir terlupakan, tradisi yang berkaitan dengan usaha/kegiatan kebutuhan hidup masyarakat ;
1)      NGANYUH MU’AU / IPANGANDRAU
Untuk memenuhi kebutuhan hidup,  orang Dayak Ma’anyan bercocok-tanam dengan berladang dan mayoritas daerah perbukitan dengan ketinggian sedang dan berpindah-pindah setelah lahan sudah tidak menghasilkan. Lalu diganti dengan perkebunan, yaitu KARET.
Dalam tradisi berladang orang Dayak Ma’anyan, ada yang hampir terlupakan dan bahkan saat ini sudah ada yang tidak melaksanakan tradisi tersebut; yakni NGANYUH MU’AU / PANGANDRAU.
Nganyuh Mu’au atau Ipangandrau dilaksanakan orang Ma’anyan ketika mereka memulai menabur bibit padi. Disini terlihat kebersamaan suku Dayak Ma’anyan khususnya, dimana masyarakat secara bersama-sama turut dalam menabur benih salah satu keluarga atau tetangga bahkan dari desa berbeda yang biasanya selesai pada hari itu juga oleh orang yang jumlahnya banyak tersebut.
Adapun kebiasaan yang dilakukan, yaitu beberapa orang laki-laki membawa EHEK (alat dari kayu untuk melobangi tanah yang kemudian di tabur benih) berjalan didepan yang di komando/dipimpin  oleh seorang PANGAYAK, yaitu orang yang memimpin gerakan menanam benih ini agar tertib dengan kaidah-kaidah menurut adat yang biasanya dari keluarga yang melaksanakan kegiatan NGANYUH ini. Sedangkan para perempuannya berjalan dibelakang dengan membawa BAJUT (sebuah wadah dari anyaman digunakan sebagai tempat WINI / benih) dan dengan tertib menabur benih tadi kedalam lobang EHEK yang dibuat oleh para pria tadi.
Setelah sampai waktunya untuk beristirahat, maka warga yang membantu dalam kegiatan tersebutpun disuguhi dengan berbagai penganan khas suku Ma’anyan; seperti BUBUR WADAI, KALUWIT, dan banyak lagi hingga makan siang.
Ada suatu tempat tepat ditengah-tengah ladang/ UME yang tidak boleh ditanami dengan benih, yang disebut; “PANGKAT PALANUNGKAI”, luasnya sekitar 4 meter persegi. Tempat ini diyakini secara turun-temurun adalah tempat para dewi padi untuk menjaga ladang tersebut dari gangguan binatang/hama yang dapat merusak padi setelah tumbuhnya, sehingga hasil tanam lebih baik dan maksimal.
Setelah satu hari penuh telah dilaksanakan gotong-royong pada UME salah satu warga, maka hari berikutnya setelah ditentukan sebelumnya dilanjutkan ke UME warga yang lainnya, demikian seterusnya secara bergantian sampai masa tanam selesai.
Itulah tradisi Suku Dayak Ma’anyan yang disebut “NGANYUH MU’AU” atau juga sering disebut “IPANGANDRAU”
-->Untuk melihat tradisi ini, anda bisa mengunjungi desa-desa di pedalaman Barito Timur sekarang, secara contoh; anda bisa menjumpai tradisi tersebut di Kecamatan Paju Epat, seperti di Desa Murutuwu, Telangsiong, Balawa dan sekitarnya.

2)      NIKEP-NUHAK-NARIUK
      Tradisi ini biasa ramai-ramai dilakukan masyarakat suku Dayak Maanyan ketika musim kemarau tiba.

Selasa, 31 Januari 2012

BAHASA PANGUNRAUN

Bahasa Pangunraun merupakan bahasa Ma'anyan kuno yang dipergunakan pada waktu adanya persaudaraan suku Ma'anyan pertama yang disebut dengan NANSARUNAI gunung rumung - ipah bawai..
Sedangkan asal-usul manusia Ma'anyan pertama dari Gumi Laliku Ma'eh (atau yang kita kenal dengan Taman Eden), itu menurut beberapa sumber literatur yang saya baca..
Bahasa Ma'anyan saat ini adalah bahasa yang sudah termodifikasi sesuai dengan kondisi masing-masing pembawa bahasa itu sendiri yang terbagi menjadi 3 (tiga) pokok Leut atau lagam bahasa yang umum digunakan sampai dengan sekarang, yakni;
- bahasa Ma'anyan Paju Epat,
- bahasa Ma'anyan Paju Sapuluh, dan
- bahasa Ma'anyan Paju Dime (banua lima)
disamping itu yang merupakan bahasa Ma'anyan turunan ada juga bahasa Dusun Ma'anyan yang mendominasi daerah aliran sungan Barito yang tersebar di Kecamatan Dusun Selatan Barito Selatan seperti Desa Kalahien, Pararapak, Tanjung Jawa, Mabuan, Ripung, dan sekitarnya.
Bahasa Ma'anyan Pangunraun sering kita dengar sangat unik dibawakan oleh Mantir-mantir Adat Ma'anyan pada saat Perkawinan Adat Ma'anyan seperti pada saat Natas Banjang dan Turus Tajak..
Harapan saya kedepan, agar bahasa yang digunakan tersebut dapat dibukukan karena generasi sekarang tidak ada yang menguasai bahasa Pangunraun tersebut..